Posts

Dewasa itu pilihan

Tulisan kali ini senada dengan tulisan saya di tahun 2015 lalu menjelang pertambahan usia. "Mungkin emang tahun ini adalah jatah saya untuk merenung, melihat lagi ke belakang dan bersyukur. Bersyukur atas apa yang sudah terjadi selama hampir 16 tahun ini."

Bahagia dalam kesederhanaan

Bahagiaku punya standar yang ga biasa. Well, itu kesimpulanku sendiri sih. Karena terkadang dalam kesederhaan pun aku bisa bahagia. Kesederhaan seperti apa?

Kenapa aku males tahun baruan?

Karena udah tau, di jalan pasti macet. Ntar ujung-ujungnya kalo tahun baruan di jalan kan gaklucu. Jadi udah 3 tahun ini tahun baruan di rumah doang. 2013 tahun bareng radio, 2014 tidur, dan 2015 nonton Filosofi Kopi meskipun gak selesai karena ngantuk banget hahahaha.

2015

Image
Sepertinya sudah menjadi tradisi selama 2 tahun terakhir saya merekap kejadian apa saja yang ada di tiap tahunnya. Baiklah, saya akan coba buat untuk tahun 2015 ini. Rasanya sedikit susah karena 2015 amatlah berkesan, banyak sekali kejadian tidak terduga, dan karena ingatan saya belum tentu bisa mengingat semuanya. Okay, here we go... Selama 2015 ini......

Berasa punya hape baru

Ola!  Aku kemaren habis factory reset data. Seperti yang sudah aku sampaikan di postingan sebelumnya, kalo Instagram aku ilang dari hape dan gakbisa diinstall lagi. Akhirnya memutuskan buat factory reset aja. Setelah yakin semua data ke backup, aku reset. EH malemnya nyesek banget karena sadar chattingan sama Joaene ternyata lupa ke backup :") ya alhasil aku harus minta Joaene kirim backup dalam bentuk text :") jadi pelajaran aja sih buat aku, kalo mengerjakan sesuatu jangan sampe luput.

2015 udah mau habis aja

Hai! I'm back! Akhirnya blogging dengan cara normal (re: lewat web). Udah beberapa bulan ini jarang banget nulis, biasanya kan blogging lewat hape dan sempet trauma karena beberapa kali tulisan ilang. Wkwkwkwk. Jadi ini mumpung bisa blogging lewat web mau cerita dikit.

Kok kamu keliatannya nggak pernah ngantuk e, Vin

Sudah berbulan-bulan yang lalu saya duduk satu meja dengan salah seorang teman yang tidak terlalu dekat. Sudah berbulan-bulan pula ide ini terkubur bersama ide-ide lain yang tak pernah jadi tulisan. FYI, tempat duduk di kelas saya berdasarkan undian. Dia termasuk tipikal anak yang kurang cocok dengan saya. Suatu hari dia mengatakan hal yang menjadi judul dari tulisan saya kali ini. "Kok kamu keliatannya nggak pernah ngantuk e, Vin,"  ujarnya suatu siang di salah satu hari Rabu setelah kelas kami mendapatkan pelajaran olahraga. Saya terdiam sejenak mendengar kalimat tersebut. Setelah berpikir sejenak, saya kemudian menjawab, "Heh! W sebenernya ngantuk banget. Tapi kan orangtua w udah bayar sekolah mahal-mahal untuk w belajar, bukan biar w bisa tidur di sekolah," dalam hati.

Kalo aku jadi menteri pendidikan...

1. Aku akan ambil kebijakan sekolah masuknya jam 8 pagi dan pulang sekitar jam 1 siang dengan 2 kali istirahat, masing-masing 20 menit 2. Memberi jeda 5 menit untuk setiap jam pelajaran biar kalo misalnya sang guru harus jalan agak jauh, nggak perlu memakan waktu pelajaran 3. Bikin 1 pelajaran untuk menambah wawasan pelajar tentang apa aja yang sedang terjadi di Indonesia dan dunia. Meliputi politik, ekonomi, pariwisata, dan sosial-budaya. Dan pelajaran itu juga jadi forum diskusi antara guru dengan pelajar. 4. 4 hari sekolah, semua ekstrakurikuler ada di hari Jumat

I have no more time

Bukannya nggak punya semangat nasionalisme. Tapi sakit hati ini udah luar biasa perih. Mungkin setiap anak remaja emang akan mengalami fase ini: di mana rasanya segala yang kita inginkan dikekang dan dilarang. Di mana apa yang menjadi impian kita bisa pupus begitu saja ketika orang tua cuek (ataupun bilang 'tidak'). And that is what I feel right now.

Sok-sibuk

Hai! Long time no see, ya Udah kama bangetttttt aku nggak nulis di sini. Zuper zibuk nih. Nggak kerasa w udah naik ke kelas 11. Wow, rasanya baru kemaren bergadang ngerjain refleksi karena kesalahan pas mos. Waktu terbang begitu cepat ya.